Hidrokarbon Nusantara

Hidrokarbon Nusantara

Monday, June 30, 2014

Keputusan Presidium Kabinet 1965

Peraturan pelaksanaan dari Perpres No. 20 tahun 1963 dituangkan dalam Keputusan Presidium Kabinet tentang Perincian Fasilitas Bagi Proyek yang dibiayai dengan Kredit Luar Negeri (Investasi) atas dasar Production Sharing sebagaimana tercantum di bawah ini:





KEPUTUSAN PRESIDIUM KABINET
No.  :  Aa/B/2/1965


Tentang perjandjian fasilitas-fasilitas bagi projek-projek jang di biajai  
dengan Kredit Luar Negeri atas dasar Production Sharing.

PRESIDIUM KABINET REPUBLIK INDONESIA

Membatja      :     Kesimpulan rapat Panitya Menteri Urusan Kredit Luar Negeri atas dasar Production Sharing pada tanggal 29 Oktober 1964.

Menimbang         :  1.  Bahwa pelaksanaan kerjasama dengan luar Negeri atas dasar Production Sharing perlu di-intensipkan

2. Bahwa oleh karena itu pokok-pokok jang tertjantum pada Peraturan Presiden No. 20/1963 tentang pamberian fasilitas bagi projek-projek jang dibiajai dengan kredit luar negeri atas dasar Production Sharing perlu diberikan perjatjian-perjantjian lebih landjut.

Mangingat      :  1.  Pasal 10 instruksi Presiden no. 2/Ko.T.O.E./l962 untuk memperkuat Front Ekonomi;

2.    Parnjataan Presiden mengenai Pindjaman atau Kredit atas dasar Production Sharing pada tanggal 3 Agustus 1962;

3. Paraturan Presiden No. 20/1963 tentang pemberian fasilitas bagi projek-pojek jang dibiajai dengan Kredit Luar Negeri atas dasar Production Sharing;

4.  Keputusan Presiden No. 235/1964 tentang Panitya Menteri Urusan Kredit Luar Negeri atas dasar Production Sharing.



MEMUTUSKAN.



Menetapkan       :   I.    Tentang pembajaran kembali kredit luar negeri atas dasar production sharing.

a. Dalam menilai sjarat-sjarat pembajaran kembali kredit Pemerintah memperhatikan sjarat-sjarat dan peraturan-peraturan jang  berlaku dinegara dari pemberi kredit.

b.  Pada pokoknja pembajaran kembali kredit harus dilakukan dari hasil-hasil jang diperoleh dari projek jang bersangkutan. Bilamana perlu Pemerintah dapat djuga memberikan idjin bahwa pembajaran kembali kredit dilakukan dengan hasil-hasil ekspor bukan dari projek jang bersangkutan.



                                    II.  Tentang garansi Bank Indonesia.

                                      Pembajaran kembali kredit diberi djaminan oleh Bank Indonesia bila projek jang bersangkutan memenuhi sjarat-sjarat jang berikut:

1. Projek jang bersangkutan adalah dianggap penting dalam  rentjana pembangunan ekonomi Pemerintah.

2.  Projek jang bersangkutan memberi kejakinan tentang sifat self-liquidating sehingga tidak akan memberatkan neratja pembajaran maupun tjadangan devisa Negara:

3. Projek jang bersangkutan setjara meyakinkan akan dilaksanakan oleh managemen jang effisien.



                                    III. Tentang Managemen

                                          Pemerintah dapat membenarkan ikut-sertanja pihak peserta
Iuar neger
i dalam management projek production sharing untuk waktu yang tertentu, Selama djangka waktu kerdjasama itu, projek jang bersangkutan, termasuk management berada dibawah pengawasan Panitya Production Sharing.

                                

                                     IV. Tentang fasilitas impor.

                                        Barang-barang jang diimpor jang langsung digunakan pembangunan projek dengan kredit luar negeri atas dasar production sharing, dibebankan dari pemungutan Bea & Tjukai dan semua beban-beban wadjib lain.



                                     V. Tentang bantuan dalam Rupiah financing.

                                        Sebagai bantuan didalam Rupiah financing, Pemerintah dapat mengidjinkan pihak Indonesia untuk mengimpor "marketable goods" sebanjak-banjaknja 20% dari djumlah kredit seluruhnja. Marketable goods jang dapat diimpor adalah "barang-barang" jang dapat didjual dipasaran Indoneaia jang pengimporannja tidak dilarang.

                                     

                                   Marketable goods tersebut tidak dibebaskan dari pemungutan Bea & Tjukai dan dari beban wadjb lain, sedang perlunasannja ditunda untuk waktu paling lama, 6 (enam) bulan.



                                      VI. Tentang pendjualan hasil-hasil projek dipasaran dunia.

                                     Dari pihak asing harus dapat diminta kerdjasama dalam pemasaran hasiI-hasil projek production sharing jang bersangkutan dipasaran dunia.



                                      VII. Tentang perpandjangan djangka waktu kerdjasama.

                                   Djika diingini demikian oleh kedua belah pihak maka djangka waktu kerdjasama dapat diperpandjang. Perpandjangan ini memerlukan persetudjuan dari Pemerintah.



                                 Keputusan ini mulai berlaku pada hari ditetapkannja.


                                                                        Ditetapkan di            : Djakarta
                                                                        Pada tanggal            : 12 Djanuari 1965




Wakil Perdana Menteri III.                                Wakll Pardana Menteri I,

   t.t.d.                                                                t.t.d.

      Dr. Chairul Saleh.                                                Dr. Subandrio.





Sesuai dengan aselinja, 
                                            Staf Ekonomi Menko Luar Negeri/Hubungan  
                                                               Ekonomi Luar Negeri
                                                                            t.t.d.
                                                      ( Dra. Soewarno Danusoetedjo)